Huh, kacau sekali hari ini. Aku sepertinya tidak bisa menjamin bahwa takhayul itu benar, tapi itu dia. Aku akan memberitahumu kebenaran.
Namaku Bertha. Aku bersama dengan dua temanku, panggil saja Renee dan Jovier pergi ke Jepang, tepatnya di Tokyo. Kamu tahu kan, kebudayaan Jepang yang percaya kepada patung kucing pembawa keberuntungan, maneki-neko yang tangannya bergerak melambai seolah ingin memanggil hoki itu lho, tahu kan?
Kata Jovier, “Aku sangat ingin membeli maneki neko! Aku suka yang ini,” tangannya menunjuk ke arah sebuah maneki neko yang berwarna putih di sebuah toko. Bersih dan tak bernoda.
Tapi… tunggu dulu. Di dekat maneki neko itu, terdapat sebuah kalung kecil berukir kanji Jepang. Apakah itu jimat? Katanya, toko ini menjual hiasan rumah. Kalung apa itu?
Baca selengkapnya »
Namaku Bertha. Aku bersama dengan dua temanku, panggil saja Renee dan Jovier pergi ke Jepang, tepatnya di Tokyo. Kamu tahu kan, kebudayaan Jepang yang percaya kepada patung kucing pembawa keberuntungan, maneki-neko yang tangannya bergerak melambai seolah ingin memanggil hoki itu lho, tahu kan?
Kata Jovier, “Aku sangat ingin membeli maneki neko! Aku suka yang ini,” tangannya menunjuk ke arah sebuah maneki neko yang berwarna putih di sebuah toko. Bersih dan tak bernoda.
Tapi… tunggu dulu. Di dekat maneki neko itu, terdapat sebuah kalung kecil berukir kanji Jepang. Apakah itu jimat? Katanya, toko ini menjual hiasan rumah. Kalung apa itu?